Dharma Siadja, CV

Dharma Siadja, CV

DHARMA SIADJA, CV

Ulet Membangun Kerajaan Bisnis

Jiwa kepemimpinan tumbuh dan mengalir dengan sempuna di diri Ketut Dharma Eka Putra Siadja yang tercatat sebagai eksportir sukses di Bali dengan mengusung nama besar dinasti Siadja ke kancah perdagangan internasional dan sukses membesarkan usaha keluarganya dibawah kepemimpinannya sebagai generasi ketiga.

Bakat kepemimpinan pria kelahiran Ubud, 30 Oktober 1968 ini memang sudah terlihat sejak masa kecil. Kendati hanya dikalangan teman-teman sepermainan. Ketut yang sekolah di english class SD 3 Saraswati, Denpasar sudah biasa mengkoordinir anak-anak yang lain untuk menabung guna membeli seragam tim sepak bola atau sekedar baju baru di hari raya Galungan. Barangkali inilah sebuah tanda alam yang muncul akan adanya talenta entrepreneur dalam naluri Ketut Siadja.

Setamat SD, Ketut Dharma Eka Putra Siadja melanjutkan pendidikan ke Denpasar di SMPN 1 hingga tamat di tahun 1984 dan langsung meneruskan pendidikan di SMAN 1 Denpasar dan mengenal Luh Putri Dewi Sinthayani yang diakrabinya sebagai teman spesial yang kemudian menjadi isterinya. Selulus SMA, Ketut langsung dikirim ke Melbourne, Australia untuk melanjutkan pendidikan di jurussan ekonomi yang telah menjadi minatnya.

Memulai Bisnis

Berbekal modal dari uang tabungan, Ketut pun memberanikan diri mengawali debut bisnisnya dengan membuka arcade/stand kerajinan tangan di Bali Galeria Nusa Dua, Bali.

Memasuki tahun 1993, Ketut Dharma Eka Putra Siadja mengembangkan usaha arcade kerajinan di Bali Galeria Nusa Dua disusul arcade-arcade lain seperti di Bali Beach Hotel dan Galeri Kuta serta kembali membuka 3 buah arcade di areal Bali Galeria Nusa Dua.

Ketut Siadja juga membantu usaha Fa Siadja milik orang tua yang pada saat itu telah berkembang memiliki dua divisi antara lain divisi retail yang diimpin ibunya dan divisi ekspor yang diurus sang ayah. Ia langsung dilibatkan terjun mengurus segala hal di pabrik dari hulu ke hilir hingga produk kerajinan rampung dan siap kirim ke para buyer di luar negeri.

Jumlah buyer yang relatif tetap, membuat Ketut Siadja merasa perlu melakukan gebrakan promosi menjemput bola di kancah internasional dan melakukan pemetaan pasar ekspor termasuk mengenal satu persatu kompetitor berikut melakukan supervisi menggelar Tour Promo bisnis ke Amerika dan Eropa.

Dalam semangat menempuh lembar baru hidup, Ketut Siadja bersama isterinya mulai memandang penting upaya usaha mandiri demi menjaga keutuhan imperium dagang keluarga di bawah bendera Fa Siadja.

Atas dasar pemikiran tersebut, ia kemudian membangun sebuah gedung sekaligus pabrik berbadan usaha CV dharma Siadja, yang bergerak khusus dibidang ekspor yang mulai beroperasional sejak tahun 1998.

Dalam kendali operasional CV. Dharma Siadja, peran Luh Putri Dewi Sinthayani sebagai isteri juga tampil sebagai tulang punggung dalam mengendalikan usaha ekspor ini. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat semenjak bersama Ketut Siadja, Dewi Sinthayani sempat beberapa lama mendapat bimbingan strategi bisnis langsung dari ayah dan ibu mertuanya. Karena itulah pasangan Ketut Siadja dan Dewi Sinthayani tidak mengalami kendala yang berarti dalam memacu laju perusahaan yang pada pesaing itu.

Belum lama sempat melihat kesuksesan Ketut Siadja dan menantunya membesarkan pasar ekspor, di tahun 1999, sang ayah, “Wayan Gde Siadja” meninggal dunia. Seketika rasa kehilangan sosok panutan dan sahabat memang tidak dapat terelakkan, namun dibalik kepergiannya, Ketut Siadja menyimpan rasa bangga bahwa selama hayat ayahnya telah berhasil merampungkan seluruh dharma hidup dengan banyak kebaikan dan prestasi yang membanggakan keluarga.

Kini tongkat estafet telah benar-benar tertuju padanya sebagai generasi ketiga yang harus berkiprah jauh lebih baik menyempurnakan olah karya dari dua generasi sebelumnya. Dengan teknik manajemen profesional didukung kiprah promosi yang terarah ditambah lagi kejelian menangkap selera dan peluang pasar, dalam waktu sangat singkat CV. Dharma Siadja melejit menembus prestasi gemilang yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Untuk mendukung pegembangan pasar perusahaannya Ketut melakukan beberapa ekspansi pembangunan pabrik baru di desa Lod Tunduh, Ubud, Desa Tengkulak Ubud dan di Yogyakarta, Jawa Tengah yang didirikan tahun 2004.

Dengan jumlah buyer yang meningkat pesat dan kuantitas ekspor yang luar biasa besar membuktikan Ketut termasuk entrepreneur muday nag memimpin dengan tidak dibayang-bayangi oleh manajemen konvensional yang berhasil memberikan bukti pencapaian kesuksesan oleh para pendahulunya.

Ketut Dharma Eka Putra Siadja memiliki cara tersendiri mengikuti zamannyauntk mengolah sebuah industri dan berhasil membuktikan bahwa setiap generasi menghadapi persaingan dan situasi pasar yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Kekokohan pilar bisnis yang ia bangun kilat tersebut ternyata terbukti handal menghadapi goncangan. Hal ini teruji di tahun 2006 di saat pabrik utama produksinya ludes terbakar beserta seluruh peralatan, bahan baku dan puluhan kontainer siap kirim disusul sebulan kemudian pabrik dan gudangnya di Yogyakarta rata dengan tanah di guncang gempa. Musibah besar ini sedikitnya menimbulkan kerugian yang sangat besar namun ia mampu pulih untuk terus melanjutkan dan menggenjot produksi.

Setelah bencana tahun 2006 itu, Ketut memetik manisnya di tahun 2007 dengan meledaknya order dan ekspor melebihi yang pernah dicapai CV. dharma Siadja. kini kerajaan dagangnya merajai pasar ekspor di Indonesia.

Selain sebagai Ketua Umum ASEPHI Bali, Ketut Siadja juga aktif di beberapa organisasi, antara lain: sebagai Wakil Ketua Umum KADIN BALI (2010-2015), Wakil Ketua Umum APINDO Bali (2012-2017), Ketua Umum PBSI Gianyar (2009-2017), serta aktif sebagai pengurus dibeberapa pura.