Tika Duk / Tika Duek

Tika duk, atau lebih dikenal sebagai Tika duek yang berarti alas tikar merupakan tikar anyaman khas Aceh yang terbuat dari daun pandan duri. Pada masa lalu, Tika duk digunakan sebagai alas duduk dalam tradisi penyambutan tamu, termasuk dalam momen-momen adat penting. Salah satunya adalah penggunaannya untuk menyambut besan dalam prosesi adat tung dara baro, sebuah tradisi pernikahan Aceh yang sarat makna penghormatan dan kekeluargaan.

Hingga kini, Tika duk masih terus diproduksi karena memiliki nilai estetika tinggi dengan motif-motif khas yang unik. Motif tersebut tidak sekadar menjadi hiasan visual, melainkan merepresentasikan kearifan lokal, ketelitian perajin, serta filosofi masyarakat Aceh yang menjunjung keharmonisan, kesopanan, dan rasa hormat kepada tamu.

Seiring perkembangan zaman, kemanfaatan Tika duk tidak lagi terbatas sebagai alas duduk. Para perajin Aceh menghadirkan inovasi dengan mengadaptasi anyaman Tika duk ke dalam berbagai produk turunan, seperti sarung bantal, sehingga tampil lebih menarik dan estetik. Inovasi ini menjadikan Tika duk “naik kelas” sebagai elemen dekorasi rumah yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai artistik tinggi.

Kehadiran Tika duk dalam bentuk homedecor memungkinkan penataan yang lebih fleksibel dan variatif dapat ditempatkan di atas kursi, sofa, maupun ruang tamu sekaligus memperkuat identitas budaya dalam ruang hunian modern. Dengan tetap mempertahankan material alami dan teknik anyaman tradisional, Tika duk menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat terus hidup melalui inovasi, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.